Sabtu, 08 September 2012

Keunggulan Pendidikan di Finlandia

suasana belajar di kelas Finlandia

Seorang guru bernama Kari Louhivuori di Kirkkojarvi Comprehensive School di Espoo daerah pinggiran sebelah barat Helsinki, Ibukota Finlandia, mendapat tugas pelik menangani seorang muridnya. Anak berusia 13 tahun ini, Besart Kabashi, yang merupakan anak pengungsi dari Kosovo Albania, tertinggal di kelasnya. 
kelas finlandia
Kelas di sebuah sekolah Finlandia
Padahal sekolah-sekolah di Finlandia terkenal dengan penanganan kelas yang sangat baik. Guru-gurunya dedikatif dan berhasil membuat iklim belajar yang membuat anak-anak sekolah di Finlandia menjadi  siswa-siswa dengan kemampuan baca tulis dan berhitung yang terbaik di dunia. 
Akhirnya anak ini harus dididik secara privat oleh Pak Kari tadi. Ketika dia malas belajar matematika geografi atai IPA, dia duduk di dekat meja Pak Kari di kelas yang diisi oleh anak-anak beruia 9-10 tahun. Anak itu hanya diberi kesempatan untuk membaca buku-buku yang bertumpuk  di kelas. Satu demi satu buku-buku itu dibacanya dan makin lama makin banyak buku yang dia baca. 
Dan pada akhir tahun anak Kosovo yang tadinya tidak bisa belajar itu mampu menguasai bahasa Finlandia dan yang paling penting, dia sekarang bisa BELAJAR, satu hal yang tadinya merupakan masalah utamanya di sekolah. Padahal sebagai anak pengungsi mempelajari bahasa Finlandia saja sudah pusing loh. Coba saja baca tulisan ini : en ymmärrä! atau Puhutko englantia?. Yang pertama artinya : saya tidak mengerti! dan yang kedua artinya apakah kamu bisa bahasa inggris? Bahasanya saja sulit karena banyak huruf-huruf matinya kayak bahasa Cyrillic di Rusia.
Dan hebatnya lagi anak yang tadinya tidak bisa belajar itu beberapa tahun  kemudian pada umur 20  tahun datang ke sekolahnya pada acara pertemuan sebagai seorang pengusaha. Ya dia baru saja membuka perusahaannya sendiri yang bergerak di bidang Perbaikan Mobil dan Bidang Kebersihan! 
Apa yang dikatakan pak Kari ketika ditanya tentang hal itu? Dia berkata : "INILAH YANG KAMI LAKUKAN SETIAP HARI, MEMPERSIAPKAN ANAK UNTUK BISA HIDUP". 
Beda ya dengan kebanyakan di sekolah kita? Sekarang anak yang tinggal kelas akan dicap sebagai anak bodoh bin tolol. Cap negatif akan menempel di anak itu sampai dewasa. Padahal saya punya teman SD dulu. Dia pernah tinggal kelas malah kalau nggak salah 2 kali. Tapi sekarang dia punya warung soto yang kondang di kota kelahiran saya. 
Mudah-mudahan postingan ini membuka hati kita bahwa anak dididik bukan hanya untuk mendapat nilai 100 atau lulus KKM. Tapi dia harus dididik untuk bisa melangkah dan menapaki masa depannya. 

0 komentar:

Poskan Komentar